Friday, March 27, 2015

Sejarah Lengkap Kerajaan Majapahit

Letak Geografis
Secara geografis letak kerajaan Majapahit sangat strategis karena adanya di daerah lembah sungai yang luas, yaitu Sungai Brantas dan Bengawan Solo, serta anak sungainya yang dapat dilayari sampai ke hulu.
Sejarah Terbentuknya Kerajaan Majapahit

Pada saat terjadi serangan Jayakatwang, Raden Wijaya bertugas menghadang bagian utara, ternyata serangan yang lebih besar justru dilancarkan dari selatan. Maka ketika Raden Wijaya kembali ke Istana, ia melihat Istana Kerajaan Singasari hampir habis dilalap api dan mendengar Kertanegara telah terbunuh bersama pembesar-pembesar lainnya. Akhirnya ia melarikan diri bersama sisa-sisa tentaranya yang masih setia dan dibantu penduduk desa Kugagu. Setelah merasa aman ia pergi ke Madura meminta perlindungan dari Aryawiraraja. Berkat bantuannya ia berhasil menduduki tahta, dengan menghadiahkan daerah tarik / hutan tarik kepada Raden Wijaya sebagai daerah kekuasaannya. disinilah asal mula berdirinya majapahit, kata majapahit berasal dari buah maja yang rasanya pahit karena di hutan tarik banyak sekali pohon maja, Pada tahun 1293 tentara Mongol dari raja kubilai khan datang ke Jawa dengan dipimpin Shih-Pi, Ike-Mise, dan Kau Hsing dengan tujuan menghukum Kertanegara, mereka tidak tahu bahwa kerajaan singasari telah hancur,  maka Raden Wijaya memanfaatkan situasi itu untuk bekerja sama menyerang Jayakatwang. Setelah Jayakatwang terbunuh, tentara Mongol berpesta pora merayakan kemenanganya. Kesempatan itu pula dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk berbalik melawan tentara Mongol, sehingga tentara Mongol terusir dari Jawa dan pulang ke negrinya. Maka tahun 1293 Raden Wijaya naik tahta dan bergelar Sri Kertajasa Jayawardhana.
Raja-raja Majapahit
Kertajasa Jawardhana (1293 – 1309)
Merupakan pendiri kerajaan Majapahit, pada masa pemerintahannya, Raden Wijaya dibantu oleh mereka yang turut berjasa dalam merintis berdirinya Kerajaan Majapahit, Aryawiraraja yang sangat besar jasanya diberi kekuasaan atas sebelah Timur meliputi daerah Lumajang, Blambangan. Raden Wijaya memerintah dengan sangat baik dan bijaksana. Susunan pemerintahannya tidak berbeda dengan susunan pemerintahan Kerajaan Singasari.
Raja Jayanegara (1309-1328)
Kala Gemet naik tahta menggantikan ayahnya dengan gelar Sri Jayanegara. Pada Masa pemerintahannnya ditandai dengan pemberontakan-pemberontakan. Misalnya pemberontakan Ranggalawe 1231 saka, pemberontakan Lembu Sora 1233 saka, pemberontakan Juru Demung 1235 saka, pemberontakan Gajah Biru 1236 saka, Pemberontakan Nambi, Lasem, Semi, Kuti dengan peristiwa Bandaderga. Pemberontakan Kuti adalah pemberontakan yang berbahaya, hampir meruntuhkan Kerajaan Majapahit. Namun semua itu dapat diatasi. Raja Jayanegara dibunuh oleh tabibnya sendiri yang bernama Tanca. Tanca akhirnya dibunuh pula oleh Gajah Mada.
Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350)
Raja Jayanegara meninggal tanpa meninggalkan seorang putrapun, oleh karena itu yang seharusnya menjadi raja adalah Gayatri, tetapi karena ia telah menjadi seorang Bhiksu maka digantikan oleh putrinya Bhre Kahuripan dengan gelar Tribuwana Tunggadewi, yang dibantu oleh suaminya yang bernama Kartawardhana. Pada tahun 1331 timbul pemberontakan yang dilakukan oleh daerah Sadeng dan Keta (Besuki). Pemberontakan ini berhasil ditumpas oleh Gajah Mada yang pada saat itu menjabat Patih Daha. Atas jasanya ini Gajah Mada diangkat sebagai Mahapatih Kerajaan Majapahit menggantikan Pu Naga. Gajah Mada kemudian berusaha menunjukkan kesetiaannya, ia bercita-cita menyatukan wilayah Nusantara yang dibantu oleh Mpu Nala dan Adityawarman. Pada tahun 1339, Gajah Mada bersumpah tidak makan Palapa sebelum wilayah Nusantara bersatu. Sumpahnya itu dikenal dengan Sumpah Palapa, adapun isi dari amukti palapa adalah sebagai berikut :”Lamun luwas kalah nusantara isum amakti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, ring Sunda, ring Palembang, ring Tumasik, samana sun amukti palapa”. Kemudian Gajah Mada melakukan penaklukan-penaklukan.
Hayam Wuruk
Hayam Wuruk naik tahta pada usia yang sangat muda yaitu 16 tahun dan bergelar Rajasanegara. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk yang didampingi oleh Mahapatih Gajah Mada, Majapahit mencapai keemasannya. Dari Kitab Negerakertagama dapat diketahui bahwa daerah kekuasaan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, hampir sama luasnya dengan wilayah Indonesia yang sekarang, bahkan pengaruh kerajaan Majapahit sampai ke negara-negara tettangga. Satu-satunya daerah yang tidak tunduk kepada kekuasaaan Majapahit adalah kerajaan Sunda yang saat itu dibawah kekuasaan Sri baduga Maharaja. Hayam Wuruk bermaksud mengambil putri Sunda untuk dijadikan permaisurinya. Setelah putri Sunda (Diah Pitaloka) serta ayahnya Sri Baduga Maharaja bersama para pembesar Sunda berada di Bubat, Gajah Mada melakukan tipu muslihat, Gajah Mada tidak mau perkawinan Hayam Wuruk dengan putri Sunda dilangsungkan begitu saja. Ia menghendaki agar putri Sunda dipersembahkan kepada Majapahit (sebagai upeti). Maka terjadilah perselisihan paham dan akhirnya terjadinya perang Bubat. Banyak korban dikedua belah pihak, Sri Baduga gugur, putri Sunda bunuh diri.
Tahun 1364 Gajah Mada meninggal, Kerajaan Majapahit kehilangan seorang mahapatih yang tak ada duanya. Untuk memilih penggantinya bukan suatu pekerjaan yang mudah. Dewan Saptaprabu yang sudah beberapa kali mengadakan sidang untuk memilih pengganti Gajah Mada akhirnya memutuskan bahwa Patih Hamungkubhumi Gajah Mada tidak akan diganti “untuk mengisi kekosongan dalam pelaksanaan pemerintahan diangkat Mpu Tandi sebagais Wridhamantri, Mpu Nala sebagai menteri Amancanegara dan patih dami sebagai Yuamentri. Raja Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389.
Wikramawardhana
Putri mahkota Kusumawardhani yang naik tahta menggantikan ayahnya bersuamikan Wikramawardhana. Dalam prakteknya Wikramawardhanalah yang menjalankan roda pemerintahan. Sedangkan Bhre Wirabhumi anak Hayam Wuruk dari selir, karena Bhre Wirabhumi (Putri Hayam Wuruk) dari selir maka ia tidak berhak menduduki tahta kerajaan walaupun demikian ia masih diberi kekuasaan untuk memerintah di Bagian Timur Majapahit , yaitu daerah Blambangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawardhana dengan Bhre Wirabhumi disebut perang Paregreg.
Wikramawardhana meninggal tahun 1429, pemerintahan raja-raja berikutnya berturut-turut adalah Suhita, Kertawijaya, Rajasa Wardhana, Purwawisesa dan Brawijaya V, yang tidak luput ditandai perebutan kekuasaan.
Sumber Sejarah
Sumber sejarah mengenai berdiri dan berkembangnya kerajaan Majapahit berasal dari berbagai sumber yakni :
Prasasti Butok (1244 tahun). Prasasti ini dikeluarkan oleh Raden Wijaya setelah ia berhasil naik tahta kerajaan. Prasasti ini memuat peristiwa keruntuhan kerajaan Singasari dan perjuangan Raden Wijaya untuk mendirikan kerajaan
Kidung Harsawijaya dan Kidung Panji Wijayakrama, kedua kidung ini menceritakan Raden Wijaya ketika menghadapi musuh dari kediri dan tahun-tahun awal perkembangan Majapahit
Kitab Pararaton, menceritakan tentang pemerintahan raja-raja Singasari dan Majapahit
Kitab Negarakertagama, menceritakan tentang perjalanan Rajam Hayam Wuruk ke Jawa Timur.
Kehidupan Politk
Majapahit selalu menjalankan politik bertetangga yang baik dengan kerajaan asing, seperti Kerajaan Cina, Ayodya (Siam), Champa dan Kamboja. Hal itu terbukti sekitar tahun 1370 – 1381, Majapahit telah beberapa kali mengirim utusan persahabatan ke Cina. Hal itu diketahui dari berita kronik Cina dari Dinasti Ming.
Raja kerajaan Majapahit sebagai negarawan ulung juga sebagai politikus-politikus yang handal. Hal ini dibuktikan oleh Raden Wiajaya, Hayam Wuruk, dan Maha Patih Gajahmada dalam usahanya mewujudkan kerajaan besar, tangguh dan berwibawa. Struktur pemerintahan di pusat pemerintahan Majapahit :
1. Raja
2. Yuaraja atau Kumaraja (Raja Muda)
3. Rakryan Mahamantri Katrini
a. Mahamantri i-hino
b. Mahamantri i –hulu
c. Mahamantri i-sirikan
4. Rakryan Mahamantri ri Pakirakiran
a. Rakryan Mahapatih (Panglima/Hamangkubhumi)
b. Rakryan Tumenggung (panglima Kerajaan)
c. Rakryan Demung (Pengatur Rumah Tangga Kerajaan)
d. Rakryan Kemuruhan (Penghubung dan tugas-tugas protokoler) dan
e. Rakryan Rangga (Pembantu Panglima)
5. Dharmadyaka yang diduduki oleh 2 orang, masing-masing dharmadyaka dibantu oleh sejumlah pejabat keagamaan yang disebut Upapat. Pada masa hayam Wuruk ada 7 Upapati.
Selain pejabat-pejabat yang telah disebutkan dibawah raja ada sejumlah raja daerah (paduka bharata) yang masing-masing memerintah suatu daerah. Disamping raja-raja daerah adapula pejabat-pejabat sipil maupun militer. Dari susunan pemerintahannya kita dapat melihat bahwa sistem pemerintahan dan kehidupan politik kerjaan Majapahit sudah sangat teratur.
Kehidupan Sosial Ekonomi dan Kebudayaan
Hubungan persahabatan yang dijalin dengan negara tentangga itu sangat mendukung dalam bidang perekonomian (pelayaran dan perdagangan). Wilayah kerajaan Majapahit terdiri atas pulau dan daerah kepulauan yang menghasilkan berbagai sumber barang dagangan.
Barang dagangan yang dipasarkan antara lain beras, lada, gading, timah, besi, intan, ikan, cengkeh, pala, kapas dan kayu cendana.
Dalam dunia perdagangan, kerajaan Majapahit memegang dua peranan yang sangat penting.
Sebagai kerajaan Produsen – Majapahit mempunyai wilayah yang sangat luas dengan kondisi tanah yang sangat subur. Dengan daerah subur itu maka kerajaan Majapahit merupakan produsen barang dagangan.
Sebagai Kerajaan Perantara – Kerajaan Majapahit membawa hasil bumi dari daerah yang satu ke daerah yang lainnya. Keadaan masyarakat yang teratur mendukung terciptanya karya-karya budaya yang bermutu. bukti-bukti perkembangan kebudayaan di kerajaan Majapahit dapat diketahui melalui peninggalan-peninggalan berikut ini :
Candi : Antara lain candi Penataran (Blitar), Candi Tegalwangi dan candi Tikus (Trowulan).
Sastra : Hasil sastra zaman Majapahit dapat kita bedakan menjadi
Sastra Zaman Majapahit Awal
  • Kitab Negarakertagama, karangan Mpu Prapanca
  • Kitab Sutasoma, karangan Mpu Tantular
  • Kitab Arjunawiwaha, karangan Mpu Tantular
  • Kitab Kunjarakarna
  • Kitab Parhayajna
Sastra Zaman Majapahit Akhir
  • Hasil sastra zaman Majapahit akhir ditulis dalam bahasa Jawa Tengah, diantaranya ada yang ditulis dalam bentuk tembang (kidung) dan yang ditulis dalam bentuk gancaran (prosa). Hasil sastra terpenting antara lain :
  • Kitab Prapanca, isinya menceritakan raja-raja Singasari dan Majapahit
  • Kitab Sundayana, isinya tentang peristiwa Bubat
  • Kitab Sarandaka, isinya tentang pemberontakan sora
  • Kitab Ranggalawe, isinya tentang pemberontakan Ranggalawe
  • Panjiwijayakrama, isinya menguraikan riwayat Raden Wijaya sampai menjadi raja
  • Kitab Usana Jawa, isinya tentang penaklukan Pulau Bali oleh Gajah Mada dan Aryadamar, pemindahan Keraton Majapahit ke Gelgel dan penumpasan raja raksasa bernama Maya Denawa.
  • Kitab Usana Bali, isinya tentanng kekacauan di Pulau Bali.
Selain kitab-kitab tersebut masih ada lagi kitab sastra yang penting pada zaman Majapahit akhir seperti Kitab Paman Cangah, Tantu Pagelaran, Calon Arang, Korawasrama, Babhulisah, Tantri Kamandaka dan Pancatantra.
 Berita tradisi menyebutkan bahwa kerajaan Majapahit pada tahun 1400 saka (sirna ilang kertaning bumi). Keruntuhan itu disebabkan karena serangan Demak. Tetapi berdasarkan bukti-bukti arkeologis yang sampai kepada kita dapat diketahui, bahwa pada waktu itu kerajaan Majapahit belum runtuh bahkan masih berdiri untuk beberapa lamanya lagi. Prasasti-prasasti batu yang berasal dari tahun 1408 saka (1486 M) membuktikan bahwa pada waktu itu kerajaan Majapahit masih berdiri. Di dalam prasasti-prasasti itu disebutkan, rajanya bernama Dyah Ranawijaya Girindra-wardhana (Sartono Kartodirdjo.dkk, 1987 : 274).
Berita Cina yang berasal dari dinasti ming masih menyebut adanya hubungan diplomati antara Cina dan Jawa (Majapahit) pada tahun 1499. Sedangkan dari berita-berita Portugis dan Italia yang berasal dari permulaan abad ke 16 dapat disimpulkan pula, bahwa pada waktu itu kerajaan Majapahit masih ada (Sartono Kartodirdjo.dkk, 1987: 275).
Seperti dikemukakan diatas, berdasarkan berita-berita Portugis dan Italia, pada permulaan abad 16 kerajaan Majapahit masih berdiri. Berita Portugis yang berasal dari tahun 1514 dan berita Italia yang berasal dari tahun 1918 masih menyebutkan adanya kerajaan hindu (Majapahit) di Jawa. Akan tetapi, berita dari penulis Italia Antonia Pigafetta yang berasal dari tahun 1522 memberikan kesan, bahwa pada waktu itu kerajaan Majapahit sudah tidak ada dalam pemberitaannya mengenai keadaan di Jawa ia mengemukakan bahwa pada tahun 1522 Majapahit hanya disebutkan sebagai sebuah kota saja, tidak sebagai sebuah kerajaan. Lebih jauh lagi di dalam pemberitaannya mengenai kerajaan di Jawa ia mengemukakan itu Pigafetta menyebutkan pula nama Pati Unus sebagai raja Majapahit, ketika ia masih hidup (Sartono Kartodirjo, 1987 : 10).
2. Masa Akhir Kejayaan Majapahit
Di kerajaan Majapahit, ketika Hayam Wuruk dengan patih Gajah Mada masih berkuasa, situasi politik pusat kerajaan memang tenang, sehingga banyak daerah di kepulauan nusantara mengaku berada di bawah perlindungannya. Tetapi sejak Gajah Mada meninggal dunia (1364 M) dan disusul Hayam Wuruk (1389 M), situasi Majapahit kembali mengalami kegoncangan. Perebutan kekuasaan antara Wikramawhardana dan Bhre Wirabumi berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Setelah Bhre Wirabumi meninggal, perebutan kekuasaan di kalangan istana kembali muncul dan berlarut-larut. Pada tahun 1468 M Majapahit diserang Girindrawardhana dari kediri. Sejak itu kebesaran Majapahit dapat dikatakan sudah habis. Tome Pires (1512-1515 M), dalam tulisannya Suma Oriental, tidak lagi menyebut-nyebut nama Majapahit. Kelemahan-kelemahan yang semakin lama semakin memuncak akhirnya menyebabkan keruntuhannya (Uka Tjandrasasmita, 1984 : 5-6).
Kebesaran dan kejayaan kerajaan Majapahit, yang telah mencapai puncak keemasannya pada pertengahan abad XIV, berangsur-angsur mulai surut. Hal ini terjadi karena sepeninggalan Patih Gajah Mada tidak ada seorang pun yang mampu mengendalikan roda pemerintahan yang besar dan luas wilayah kekuasaannya. Selain itu, sepeninggal raja Hayam Wuruk muncul suatu masalah baru yang menimpa keluarga raja-raja Majapahit, yaitu masalah perebutan kekuasaan dan pertentangan keluarga yang berlangsung berlarut-larut dan menimbulkan peperangan antara keluarga raja-raja Majapahit. Keadaan yang demikian ini menyebabkan timbulnya perpecahan dan kelemahan di berbagai bidang kehidupan pemerintahan di kerajaan Majapahit. Akibatnya, kerajaan Majapahit menjadi rapuh dari dalam. Akhirnya, ketika muncul perkembangan baru di Asia Tenggara, khususnya di Nusantara, yaitu ketika makin berkembangnya agama Islam dan munculnya kekuatan baru di daerah-daerah pesisir serta munculnya orang-orang Eropa sekitar tahun 1500, Kerajaan Majapahit sudah sangat lemah dan mendekati ambang keruntuhannya (Hasan Djafar, 2009 : 62).
Pertentangan antar keluarga raja-raja Majapahit pertama kali muncul dalam pemerintahan Wikramawardhana (Bhra Hyan Wisesa). Dari Parameswari Hayam Wuruk memperoleh seorang putri bernama Kusumawardhani yang kemudian dijadikan putri mahkota. Kusumawardhani kawin dengan saudara sepupunya yang bernama Wikramawardhana, yaitu anak Bhre Pajan Rajasaduhiteswari, adik perempuan raja Hayam Wuruk. Jadi, Wikramawardhana adalah keponakan dan menantu Hayam Wuruk (Hasan Djafar, 2009 : 63).
Dari isteri selir (rabihaji), Hayam Wuruk memperoleh seorang putra, yaitu bhre wirabhumi (Pararaton:37). karena lahir dari isteri selir, maka ia tidak berhak atas tahta kerajaan Majapahit. Walaupun demikian, ia masih diberi kekuasaan oleh ayahnya untuk memerintah di daerah bagian timur, yaitu di daerah balambangan. Adapun Kusumawardhani dan suaminya memperoleh bagian barat dan berkedudukan di Majapahit (Hasan Djafar, 2009 : 63).
Di dalam Serat Pararaton, peristiwa pertentangan keluarga antara Wikramawardhana (Bhra Hyan Wisesa) dengan Bhre Wirabhumi ini disebut Paregreg atau peristiwa huru-hara. Peristiwa ini mulai terjadi pada saka 1323. tiga tahun kemudian peristiwa itu timbul menjadi peperangan antara kedua belah pihak (Pararaton:39). Selanjutnya pararaton mengemukakan bahwa dalam perang saudara itu mula-mula Bhra Hyan Wisesa dari Kadaton Kulon menderita kekalahan, tetapi akhirnya setelah mendapat bantuan dari Bhre Tumapel (Bhra Hyan Parameswara) Kadaton Wetan dapat dikalahkan. Bhre wirabhumi kemudian melarikan diri ia dikejar oleh Raden Gajah (Bhra Narapati) dan tertangkap. Ia kemudian dipenggal kepalanya. Peristiwa ini terjadi pada saka 1328 (Hasan Djafar, 2009 : 64).
Mengutip dari catatan Groeneveldt (1960:36-37), bahwa berita pararaton tentang peperangan antara Wikramawarddhana dan Bhre Wirabhumi ini sesuai dengan berita Cina yang berasal dari zaman Dinasti Ming (1368-1643). Buku ke-324 dari Sejarah Dinasti Ming (Ming-Shih) menyebutkan bahwa setelah kaisar Ch’eng-tsu bertahta pada 1403, ia mengadakan hubungan diplomatik dengan Jawa. Ia mengirimkan utusan-utusannya kepada raja bagian barat, Tu-ma-pan dan kepada raja “bagian timur”, Put-ling-ta-hah atau P’i-ling-da-ha. Pada 1405, laksamana Cheng-Ho memimpin armada perutusan ke Jawa. Pada tahun berikutnya,ia menyaksikan kedua raja di Jawa sedang saling berperang. Kerajaan bagian timur dikatakan mendapat kekalahan dan kerajaannya dirusak. Berita cina itu mengemukakan bahwa pada waktu terjadinya peperangan antara kedua raja itu., perutusan Cina sedang berada di kerajaan bagian timur (Hasan Djafar, 2009 : 64).
Peristiwa persengketaan keluarga ini tidak berhenti walaupun Bhre Wirabhumi sudah meninggal. Karena meninggalnya Bhre Wirabhumi ini berarti kekalahan bagi pihak keluarga Bhre Wirabhumi. Oleh karena itu, muncul benih balas dendam. Maka setelah Wikramawarddhana memerintah di Majapahit sampai saat meninggalnya, yakni pada Saka 1351 (1429 Masehi). Ia digantikan oleh puterinya yang bernama Suhita yang memerintah pada 1429-1447 (Krom, 1931:429-430). Mengenai Suhita, Serat Pararaton memberitahukan bahwa ia adalah anak dari Bhra Hyang Wisesa (Pararaton:37). Namun, siapa ibunya tidak disebutkan di dalam Pararaton, tetapi agaknya ibu Suhita adalah putri dari Bhre Wirabhumi. Oleh karena itu, Suhita mungkin dijadikan raja di Majapahit dengan maksud untuk meredakan persengketaan antara Wikramawarddhana dan pihak keluarga Bhre wirabhumi (Krom, 1931:446; Soekmono, 1961:71). Kitab pararaton memberitakan bahwa pada waktu Suhita memerintah pada Saka 1355 (1433 Masehi), Raden Gajah (Bhra Narapati) dibunuh karena dituduh telah memenggal Wirabhumi (Pararaton:39). Dengan terjadinya pembunuhan terhadap Bhra Narapati, maka persengketaan keluarga itu dapat dikatakan masih terus berlangsung (Hasan Djafar, 2009 : 64).
Pada Saka 1369 yaitu tahun 1447, Suhita meninggal dan kemudian Kertawijaya menggantikannya menjadi raja di Majapahit. Kertawijaya meninggal pada Saka 1373 / 1451 M dan dimakamkan di Kertawijaya pura (Purwadi, 2010 : 119).
Sepeninggal Kertawijaya, Bhre Pamotan menjadi raja dengan bergelar Sri Rajasawarddhana. Ia dikenal dengan sebutan San Sinagara. Pada waktu menjadi raja, ia berkedudukan di Kelin-Kahuripan (Pararaton:40). Atas dasar pemberitaan Pararaton ini, Rajasawarddhana mungkin telah memindahkan pusat pemerintahannya dari ibukota Majapahit ke Kelin-Kahuripan pada masa pemerintahannya. Hal ini mungkin menunjukan bahwa keadaan politik di Majapahit telah memburuk lagi akibat dari adanya pertentangan keluarga yang telah berlangsung berlarut-larut (Hasan Djafar, 2009 : 66).
Rajasawarddhana meninggal pada Saka 1375 (1453 Masehi) dan selama tiga tahun tidak ada raja (Pararaton: 40). Jadi, antara tahun Saka 1375-1378 (1453-1456 Masehi) Majapahit mengalami masa tanpa raja (interregnum). Namun sebab-sebab terjadinya interregnum ini tidak dapat diketahui dengan pasti. Hal ini mungkin juga akibat dari pertentangan keluarga raja-raja Majapahit. Pertentangan yang telah berlangsung dengan berlarut-larut itu sepertinya telah melemahkan kedudukan keluarga raja-raja Majapahit, baik di pusat maupun di daerah. Oleh karena itu, sepeninggal Rajasawarddhana tidak ada yang sanggup tampil untuk memegang tampuk pemerintahan di Majapahit (Hasan Djafar, 2009 : 66).
Setelah kekosongan kekuasaan raja berlangsung selama tiga tahun, baru pada Saka 1378 (1456 Masehi) tampil Bhre Wenker (Bhra Hyan Purwawisesa) untuk memegang pemerintahan Kerajaan Majapahit. Ia adalah anak Bhre Tumapel Dyah Kertawijaya (Pararaton:38). Nampaknya, selama masa pemerintahan Bhra Hyan Purwawisesa pertentangan antar keluarga itu dapat diredakan. Ia memerintah selama sepuluh tahun. Pada Saka 1388 (1466 M), ia meninggal dan digantikan oleh Bhre Pandansalas (Pararaton:40). Pararaton memberitakan (anjenen-in Tumapel). Setelah dua tahun memerintah, ia kemudian menyingkir meninggalkan keratonnya (Hasan Djafar, 2009 : 66).
Dari prasasti Pamintihan yang berangka tahun Saka 1395, Bhre Pandansalas ternyata oleh para sarjana diidentifikasikan Dyah Suraprabhawa Sri Sinhawikrama-warddhana. Pada waktu itu, ia masih memerintah sebagai Raja Majapahit. Prasasti Pamintihan tersebut memberikan keterangan sebagai berikut:
“…..paduka sri maharajadhiraja prajaikanatha, srimacsri bhattara prabu garbbhaprasutinama dyah suraprabhawa sri sinhawikramawarddhana namadewabhiseka sri giri patiprasutabhupatiketubhuta, sakalajanarddhananindya parakrama digwijaya, jangalakadiriyawabhumyekadhipa, siratah prabhuwisesa rin bhumiJawa makaprakaran jangala mwan kadiri”.
Artinya :
(“…..Paduka Sri Maharaja satu-satunya raja rakyat, Bhattara Prabhu yang dipertuan, yang mempunyai nama gelar sri maha raja satu-satunya raja rakyat, bhattara prabhu yang dipertuan, yang mempunyai nama kelahiran suprabhawa dan mempunyai nama gelar sri sinhawikramawarddhana, yang menjadi pemimpin (panji-panji) raja-raja keturunan raja gunung yang mendapat kemenangan dari segala penjuru, penguasa tunggal di tanah Jawa, jenggala dan kediri. Beliaulah raja yang berkuasa di tanah Jawa, janggala dan kediri”). (Hasan Djafar, 2009 : 67).

Pandansalas menggantikan Tumapel yang telah meninggal. Ia menjadi baginda prabu pada tahun Saka 1388 (1466 M). Ia menjadi prabu dua tahun lamanya ia berkuasa, kemudian menarik diri menjadi pertapa. Pandansalas yang nama aslinya Singhawikramawardhana, berkeraton di Tumapel selama dua tahun. Dalam tahun 1468, ia terdesak oleh Kertabhumi (anak bungsu rajasawardhana) yang kemudian berkuasa di Majapahit. Berdasarkan keterangan yang terdapat di dalam prasasti Girindawardhana itu, maka dapat diduga bahwa ketika kadaton tumapel diserang oleh Kertabhumi, Pandansalas menyingkir ke Daha. Di Daha ia kemudian meneruskannya pemerintahannya sebagai raja Majapahit (Purwadi, 2010 : 124-125).
Pandansalas meninggal pada saka 1396 (1474 M) dan kemudian digantikan oleh anaknya Dyah Ranawijaya Pada masa pemerintahannya, Ranawijaya berusaha untuk mempersatukan kembali seluruh wilayah kekuasaan Majapahit yang telah terpecah-pecah akibat pertentangan keluarga antara raja-raja Majapahit. Pada awal menjadi raja menggantikan ayahnya, sebagian kekuasaan Majapahit masih berada di tangan Bhre Kertabhumi. Untuk melaksanakan cita-citanya mempersatukan kembali seluruh wilayah Majapahit, ia harus menggulingkan Bhre Krtabhumi yang sedang berkuasa di Majapahit. Oleh sebab itu, pada saka 1400 ia mengadakan penyerangan ke Majapahit untuk merebut kembali kekuasaan Majapahit dari tangan Kertabhumi (Hasan Djafar, 2009 : 69).
Prabu Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V memegang tahta selama 10 tahun. Tidak diduga sama sekali jika ia menjadi raja Majapahit yang terakhir, karena setelah beliau, kerajaan adidaya ini melemah dan kemudian terjadi perebutan kekuasaan kembali. Pada saat konflik di istana memuncak, di pesisir utara Jawa, orang-orang Islam sudah semakin kuat, apalagi semenjak datangnya para wali dan ikut mempengaruhi perkembangan masyarakat Jawa. Pada saat pemerintahan Brawijaya V ini, kekuasaan Majapahit sudah merosot tajam. Ia hanya mewarisi daerah Jawa bagian tengah dan timur saja. Daerah-daerah lain sudah tidak ada kontak kekuasaan lagi. Menurut satu riwayat, Brawijaya V meninggal ketika istana Majapahit diserang oleh Ranawijaya dari Keling (Purwadi, 2010:125).
Menurunnya pengaruh Majapahit menjadi semakin merosot tersebut salah satunya karena tidak ada ahli Negara yang sehebat dan sebijaksana Gajah Mada. Tidak ada tokoh negarawan yang mampu menyatukan berbagai pihak dan menyikapi segala sesuatu persoalan dengan adil dan bijaksana. Kerajaan Majapahit runtuh perlahan-lahan dengan memisahkan dirinya menjadi raja-raja kecil di berbagai pulau dan daerah satu persatu. Majapahit dalam hal ini tidak ada kemampuan untuk mencegahnya, kecuali melihat dan membiarkannya saja. Dalam setengah abad, kerajaan yang besar dan luas tersebut cerai-berai dan kehabisan tenaga (Purwadi, 2010:125).
3. Proses Islamisasi Menjelang Keruntuhan Majapahit
Berdasarkan berita-berita Arab dan Cina, kita telah mengetahui bahwa beberapa daerah di Indonesia sejak abad VII telah dikunjungi oleh para pedagang Islam, bahkan di tempat-tempat tersebut mereka membentuk koloni-koloni. Adanya koloni-koloni para pedagang Islam, yang datang dari Arab, Persia dan India, sudah tentu menimbulkan pengaruh terhadap kehidupan sosial-budaya masyarakat sekitarnya, khususnya di bidang keagamaan dikenalnya agama baru, yakni Islam. Sejak tahun 674 M di pantai barat Sumatera sudah ada koloni-koloni Saudagar yang berasal dari negeri Arab. Pada abad ke-8 M di sepanjang pantai barat dan timur pulau Sumatera diduga sudah ada komunitas-komunitas Muslim (Badri Yatim, 1993 : 162).
Sejak abad ke-13 itu, sudah terjadi hubungan politik dagang antara orang-orang di kepulauan nusantara dengan Arab, Persia, India, dan Cina. Hubungan dagang terjadi terutama melalui jalur laut yang melewati pelabuhan-pelabuhan besar. Pelabuhan utama di Jawa yaitu Sunda Kelapa, Pekalongan, Semarang, Jepara, Tuban dan Gresik telah tumbuh sejak awal abad masehi. Para pedagang asing yang datang ke pelabuhan tersebut sambil menunggu datangnya musim yang baik untuk berlayar sambil membentuk koloni (Purwadi, 2009:2).
Melihat makam-makam Muslim yang terdapat di situs-situs Majapahit, diketahui bahwa Islam sudah hadir di ibu kota Majapahit sejak kerajaan itu mencapai puncaknya. Islam menyebar ke pesisir pulau Jawa melalui hubungan perdagangan, kemudian dari pesisir ini, agak belakangan menyebar ke pedalaman pulau Jawa (Ricklefs. M.C, 2009 : 6).
.
Badri Yatim (1993:198) mengutip dari pernyataan Tome pires tentang gambaran wilayah-wilayah pesisir Jawa berada di bawah pengaruh muslim:
Pada waktu terdapat banyak orang kafir di sepanjang pesisir Jawa, banyak pedagang yang biasa datang : orang Persia, arab, Gujarat, Bengali, melayu, dan bangsa-bangsa lain. Mereka mulai berdagang di negeri itu dan berkembang menjadi kaya. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mullah-mullah datang dari luar. Oleh karena itu, mereka datang dalam jumlah yang terus meningkat. Anak-anak orang kaya muslim sudah menjadi orang Jawa dan kaya, karena mereka telah menetap di daerah ini sekitar 70 tahun. Di beberapa tempat, raja-raja Jawa yang kafir menjadi Muslim, sementara para mullah dan para pedagang muslim mendapat posisi di sana. Yang lain mengambil jalan membangun benteng di sekitar tempat-tempat mereka tinggal dan mengambil masyarakat pribuminya, yang berlayar di kapal-kapal mereka. Mereka membunuh raja-raja Jawa serta menjadikan diri mereka sebagai raja. Dengan cara ini, mereka sebagai tuan-tuan di pesisir itu serta mengambil alih perdagangan dan kekuasaan di Jawa (Badri Yatim 1993:198)
Berkembangnya agama Islam di pesisir pantai terutama kota-kota pelabuhan pesisir utara Jawa tidak terlepas dari peran dan pengaruh Wali Sanga dalam menyebarkan agama Islam. Mereka menyebarkan Islam dengan menggunakan berbagai metode dakwahnya. Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat (Purwadi, 2010:135).
Kekuasaan Majapahit di tanah Jawa mulai tersaingi dengan kekuatan agama baru, yakni agama Islam. Di Gresik, muncul kewalian Giri yang awal mulanya hanya semacam pesantren dengan kekuasaan ilmu dan spiritual saja. Akan tetapi, lama-lama menjadi semakin kokoh dan menjadi kekuatan politik juga. Daerah-daerah pesisir menjadi tempat konsentrasi pengembangan dakwah para wali. Kadipaten-kadipaten di pesisir utara telah diIslamkan dengan baik oleh para wali, Tuban, Gresik, Sidayu, Jepara, Rembang, Demak, Pekalongan, Cirebon dan Banten. Oleh kekuatan Islam ini, Majapahit terdorong ke daerah pedalaman dan semakin sulit berhubungan dengan daerah luar. Sementara itu, agama Islam pun merangsek ke pedalaman sehingga posisi Majapahit benar-benar menyempit dan mengecil (Purwadi, 2010:135).
Pesantren Ampel Denta dan Giri adalah dua institusi pendidikan paling penting di masa itu. Dari Giri, peradaban Islam berkembang ke seluruh wilayah timur nusantara. Sunan Giri dan sunan gunung jati bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan. Sunan Giri, Bonang, Kalijaga, dan Kudus adalah kreator karya seni yang pengaruhnya masih terasa hingga sekarang. Sedangkan muria adalah pendamping rakyat jelata. (Purwadi, 2009:14).
Maulana Malik Ibrahim di Gresik merasa perlu membuat bangunan tempat menimba ilmu bersama. Model belajar seperti inilah yang kemudian dikenal dengan nama pesantren. Kendati pengikutnya terus bertambah, malik merasa belum puas sebelum berhasil mengislamkan raja Majapahit. Pada waktu itu Gresik di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Raja dan rakyat Majapahit masih beragama hindu-budha. Apalagi rakyat akan selalu merujuk dan berteladan pada prilaku raja. Karena itu, mengislamkan raja merupakan pekerjaan yang strategis (Purwadi, 2009:14-15).
Tetapi Malik tahu diri. Kalau ia langsung berdakwah ke raja, pasti tidak akan digubris, karena posisinya lebih rendah. Karena itu ia meminta bantuan sahabatnya, yang menjadi raja di cermin. Konon, kerajaan cermin itu Persia. Tetapi J. Wolbers, dalam bukunya Geshiedenis Van Java, menyebut cermin tak lain adalah kerajaan gedah, alias kedah di Malaysia (Purwadi, 2009:17).
Sumber dari Hikayat Hasanudin memperkirakan pada sebelum 1446-tahun kejatuhan Campa ke tangan Vietnam. De Hollander menulis, sebelum ke Jawa, Rahmatullah memperkenalkan Islam kepada raja Palembang, Arya Dammar, pada 1440. perkiraan Tome Pires menjadi bertambah kuat. Dalam lawatan ke Jawa, Rahmatullah didampingi ayahnya, kakaknya Sayid Ali Murtadha dan sahabatnya Abu Hurairah (Purwadi, 2009:22).
Rombongan mendarat di kota Bandar Tuban, tempat mereka berdakwah beberapa lama, sampai syekh asmarakandi wafat. Sisa rombongan melanjutkan perjalanan ke trowulan, ibu kota Majapahit, menghadap kertawijaya. Disana Rahmatullah menyanggupi permintaan raja untuk mendidik moral para bangsawan dan kawula Majapahit (Purwadi, 2009:22).
Sebagai hadiah, ia diberi tanah di Ampeldenta, Surabaya. Sejumlah 300 keluarga diserahkan untuk dididik dan mendirikan pemukiman Ampel. Meski raja menolak masuk Islam. Rahmatullah diberi kebebasan mengajarkan Islam pada warga Majapahit, asal tanpa paksaan. Selama tinggal di Majapahit, rahmatullah dinikahkan dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Teja, Bupati Tuban (Purwadi, 2009:22).
Prabu Brawijaya V mungkin tidak begitu menyadari akan hal ini. Bahkan beliau sendiri mengambil selir seorang putri Cina yang yang sudah masuk agama Islam. Putri cina tersebut mempengaruhi keagamaan Prabu Brawijaya V. sementara kadipaten-kadipaten di daerah pedalaman yang masih setia dengan agama budha, kecewa dengan prabu Brawijaya V yang dianggap lemah. Misalnya kadipaten ponorogo yang waktu itu dikuasai oleh Suryangalam hendak memisahkan diri dengan Majapahit karena menganggap tidak mampu lagi dijadikan payung. Dalam kondisi politik yang demikian para Wali bertindak cepat mengambil simbol kerajaan Majapahit dan memboyongnya ke Demak, dan mendirikan kerajaan Islam pertama kali di Jawa (Purwadi, 2006:82).

No comments:

Post a Comment