KERJASAMA INDONESIA DENGAN KAMBOJA
Setiap
negara dalam perjalanan setiap pemerintahannya tentu saja tidak lepas
dengan serangkaian pergolakan, baik bersifat intern maupun eksternal.
Pergolakan intern kamboja, tercatat pada peristiwa ancaman komunisme
kamboja di tahun 1975 di mana banyak yang mengklaim bahwa pergolakan
tersebut tidak lepas dari pengaruh negara tetangganya yakni Vietnam dan
China. Sedangkan salah satu contoh pergolakan eksternal Kamboja yakni
perselisihan dengan Thailand berkaitan dengan candi purba Preah Vihear
di perbatasan kedua negara tersebutSepertihalnya Indonesia yang identik
dengan negara sumber terorisme, Kamboja juga dikenal berkaitan dengan
berbagai permasalahan keamanan dan perbatasan dengan negara tetangganya.
Oleh karena itu, ruang lingkup pembahasan permasalahan Kamboja masih
sangat luas. Fokus pembahasan memiliki kecenderungan menjadi bias dan
terlalu terdispersi.
Persengketaan
maupun pergolakan di suatu negara yang berdaulat hakekatnya masih
merupakan wewenang internal bebas intervensi asing sampai pada tingkat
level tertentu negara bersangkutan secara kognitif menyampaikan
inkapabilitasnya. Keberadaan forum kawasan, ASEAN dalam hal ini idealnya
adalah berpartisipasi aktif dalam menjaga situasi keamanan.
Sebagai
contoh studi kasus untuk mendapatkan pendekatan perspektif
permasalahan, yakni sengketa Candi Preah Vihear di perbatasan
Kamboja-Thailand. Permasalahan bilateral antara Kamboja-Thailand telah
dibawa dalam pertemuan ASEAN guna mengijinkan ASEAN menjadi jembatan
supaya tercapai win-win solution. Melalui Menteri Luar Negeri
Singapura George Yeo dan sebagai tanggapan atas surat yang dikirimkan
pemerintah Kamboja, yang meminta ASEAN juga ikut campur untuk
mendinginkan ketetgangan yang meningkat atara kedua negara bertetangga
tersebut. Akan tetapi beberapa perundingan yang disponsori ASEAN
melalui pembicaraan makan siang antarmenteri luar negerinya, mengalami
kebuntuan. Sekjen ASEAN, Surin Pitsuwan menyatakan ASEAN tidak bisa
mengontrol situasinyaBukankah ini secara implisit mengungkapkan
inkapabilitas ASEAN menghadapi permasalahan yang ada, sekaligus seolah
mengilustrasikan ASEAN hanya sekedar forum talk shop.
Singkat
kata, perundingan bilateral pun lebih digalakkan supaya tercapai saling
pengertian sekaligus saling menahan diri dari benturan-benturan
agresifitas militer. Kebuntuan ini bukan tanpa sebab, tetapi karena
tidak ada dari salah satu pihak Kamboja maupun Thailand bersedia untuk
berkompromi. Bahkan keupusan pengadilan internasional terhadap
kepemilikan kuil tersebut jatuh ke tangan Kamboja ditolak oleh Thailand
karena status tanahnya belum jelasOleh karena itu, pemerintah Pnom Penh
pun kemudian berinisiatif mengirimkan permohonan agar DK PBB campur
tangan dalam menjembatani konflik bilateral Kamboja-Thailand
Konflik
kedua negara ini merupakan cermin dari inkapabilitas ASEAN yang tidak
kompeten dan tidak efektif sebagai fasilitator mediasi supaya terjadinya
negosiasi. Hubugan internasional antarkedua negara dan antarnegara di
bawah payung ASEAN seolah-olah tidak mencerminkan esensi dari keberadaan
ASEAN sebagai forum bersama menciptakan keharmonisan hubungan
antaranggotanya. Upaya penyelesaian konflik pun lebih banyak berasal
dari inisiatif negara yang sedang bertikai dengan memfokuskan diplomasi
bilateral dan multilateral melalui PBB.
No comments:
Post a Comment